Sabtu, Mei 25, 2019
Tak Berkategori

Pelajar NU Jawa Barat Harus Angkat Ulama-Ulama Lokal ke Media

Di era globalisasi ini, siapa yang tak kenal dengan Gus Mus? Berkat ceramah-ceramah yang menggugah dan selalu viral di media, masyarakat Indonesia terkhusus Nahdliyyin sudah banyak yang tau akan sosok ulama, budayawan dan pejuang kemanusiaan yang sekarang dipercaya menjadi Mustasyar PBNU ini.

Hal tersebut diungkapkan oleh Oleh IIP D Yahya selaku penggagas acara pelatihan jurnalis milenial NU 2018 yang diselenggarakan di Kantor PWNU, Jalan Terusan Galunggung 9, Kota Bandung, Kamis (16/8).

Pria yang akrab disapa Kang Iip juga mengungkapkan ada banyak sekali tokoh ulama yang berada di plosok-plosok Indonesia. Namun ia merasa sangat menyayangkan tokoh-tokoh ulama tersebut tidak diangkat ke media.

“Ulama di desa-desa Jawa barat sangatlah banyak. Rois Syuriah MWC NU dan Ketua Tanfidziah nya juga sudah banyak yang terbentuk. Tapi, sayang banget kalau ceramah-ceramahnya jarang terpublish. Apalagi kalau berbicaranya soal globalisasi, kalau di publish kan akan menarik. Kalau Gus Mus atau Kiai Said yang berbicara itu sudah umum,” Ungkapnya.

Disamping itu, Mas Dudi selaku partner kerja Kang Iip juga memperkuat mengapa pelajar NU harus mengangkat ulama-ulama lokal. Beliau mengibaratkan tokoh lokal sebagai makanan khas daerah yang jika tidak di informasikan ke publish, maka hanya akan di ketahui oleh masyarakat setempatnya saja.

“Lokalistas itu penting. Contohnya makanan khas Tasikmalaya. Saya asli orang Tasikmalayanya sh melihat makan khas tersebut sudah biasa. Tetapi kalau saya tulis, akan menjadi sebuah informasi dan menarik orang lain. Hal-hal yang dekat dengan kita terkadang kita abaikan”, Ujarnya.

Karena itu, pria yang biasa di panggil Kang Iip ini menghimbau kepada para para pelajar NU untuk mengangkat tokoh-tokoh lokal ke media baik dalam bentuk artikel, meme, film dokumenter dan lain-lain.

Selain itu, mengapa ia lebih memilih IPNU untuk mengikuti acara pelatihan Jurnalistik ini, karena anak muda masih banyak watu kosongnya dan semangat belajarnya masih sangat tinggi.

“Saya lebih memilih IPNU untuk ikut pelatihan ini karena IPNU punya banyak waktu bermainnya. Penugasan ke rumah temen contohnya. IPNU bisa mencari waktu luang bersowan ke tokoh lokal sekaligus meminta isi cermahnya dipublish”, Tandasnya.(Abdul Mu’izz)

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top